Dipuasin Cewek Sma Di Kosan

Dipuasin Cewek Sma Di Kosan




Dipuasin Cewek Sma Di Kosan
update sore guis kali ini masih bokep indo yang di perani pelajar sma yang suka ml pastinya dan kali ini kita update videoya dimari dalam video ini adegan mesum di perankan oleh dua pelajar sma di kosanya guis tapi agresi ceweknya tu kayak dah pro banget bikin pengen di service juga sama ceweknya deh ingin tau dengan aksinya pribadi play aja guis video bokep ini hanya di bokepi.ml kunjungi terus situs favorit kalian in untuk update@ bokep terbaru dan terviral lainya

Abg Bohay Kangen Kontol

Abg Bohay Kangen Kontol




Abg Bohay Kangen Kontol
masih bokep indo ni guis kali ini kita dapet video dari ABG Bohay yang kangen sama kontol sehinga ia mastrubasi sendirian kasian banget dan berpengaruh banget sampe hampir 30 menit mastrubasi tapi belum crot juga.yang jadi pertanyaan kalo jadi cowoknya dapat muasin ngak ya kira kira wow banget ingin tau pribadi play video bokep ini dan ikuti terus updet dari bokepi.ml

Perselingkuhan Ku Dengan Tante Yang Kesepian Bab Satu

Perselingkuhan Ku Dengan Tante Yang Kesepian Bagian Satu

Perselingkuhan Ku Dengan Tante Yang Kesepian Bagian Satu
 Perselingkuhan,- Kejadiannya 13 tahun yang lalu, ketika saya masih kuliah disebuah kota S di P. Aku mempunyai sobat satu angkatan satu jurusan Yon namanya, berasal dari kota W. Kami begitu lengketnya, study, ngobrol, jalan ngalor-ngidul, ngapelin cewek satupun sering bersama. Sampai kecewapun sering bareng-bareng.

Yon si anak “bocor” tapi baik hati itu tinggal dirumah tantenya (yang biasa saya panggil Ibu Tari) yang hanya punya anak gadis semata wayang. Itupun begitu lulus S1 Manajemen perusahaan pribadi dilibas habis kegadisannya sama pacarnya, dalam suatu perkawinan, terus diboyong ke Jakarta.

Tinggallah Ibu Tari ini bersama suaminya yang pengusaha jasa konstruksi dan trading itu dengan pembantu dan sopir. Kebetulan Yon ini keponakan kesayangan. Wajar saja ia suka angkuh lantaran jadi tumpahan sayang Ibu Tari. Sampai suatu ketika ia minta tinggal di luar rumah utama yang bahu-membahu berlebih kamar, ya si tante nurut saja. Alasan Yon biar kalau pulang larut malam, tidak mengganggu orang rumah lantaran minta dibukakan pintu.

Ruang yang ia minta dan berdiri ialah gudang di sebelah garasi mobil. Dengan selera anak mudanya ia atur interior ruangan itu seenak perutnya. Setengah selesai penataan ruang yang akibatnya jadi kamar yang cukup besar itu, sekali lagi Yon mengatakan diri biar saya mau tinggal bersamanya. Saat itu Ibu Tari, hanya senyum-senyum saja. Seperti dulu-dulupun saya menolaknya. Gengsi sedikitlah, alasannya ialah ikut tinggal di rumah Bu Tari berarti semuanya serba gratis, itu artinya hutang budi, dan artinya lagi ketergantungan. Biar saya suka pusing mikirin uang kost bulanan, makan sehari-hari atau nyuci pakaian sendiri, sedikitnya di kamar kostku saya mirip insan merdeka.

Tapi hari itu, entah lantaran bujukan mereka, atau lantaran sayangku juga pada mereka dan sebaliknya sayang mereka padaku selama ini. Akhirnya saya terima juga usulan itu, dengan perjanjian bahwa saya tidak mau serba gratis. Aku maunya bayar, walaupun uang bayaran kostku itu menyerupai ngencingin kolam renang buat Bu Tari yang memang kaya itu. Toh selama ini saya menganggap rumah Bu Tari ini rumah kostku yang kedua, sebelumnya sering juga saya menginap dan nongkrong hampir setiap hari di sini.

Ada satu hal bahu-membahu yang ikut juga menghalangiku selama ini menolak usulan Yon atau Bu Tari untuk tinggal di rumahnya. Entah kenapa saya yang anak muda begini, suka mencicipi ada sesuatu yang aneh di dada kalau bertatapan, ngobrol, bercanda, diskusi dan berdekatan dengan Bu Tari. Perempuan yang selayaknya jadi tante atau bahkan ibuku itu. Buatku Ibu Tari bukan hanya sosok perempuan manis atau sedikitnya orang yang melihatnya akan menilai bahwa semasa gadisnya Bu Tari ialah perempuan yang luar biasa. Bukan hanya sekedar bahwa hingga setua itu Ibu Tari masih punya bentuk tubuh yang meliuk-liuk. Senyumnya, dada, pinggang, hingga ke pinggulnya suka membuatku susah tidur dan gres lega jikalau saya beronani membayangkan bersetubuh dengannya. Jika saya beronani tidak cukup kalau cuma keluar sekali saja.

Gejala apa ini, apakah masuk akal saya terobsesi sosok perempuan yang tidak hanya sekedar cantik, tapi berintelegensi bagus, penuh kasih dan nature. Buatku secantik apapun perempuan jikalau tidak punya tiga unsur itu, hirau taacuh dalam selera dan pandanganku. Seperti sebuah buku kartun yang tolol dan tidak lucu saja layaknya. Malangnya Ibu Tari mempunyai semua itu, dan lebih malangnya lagi aku. Di bawah sadar sering saya diremas-remas iri dan cemburu jikalau melihat Ibu Tari berbincang mesra atau melayani Pak Bagong, suaminya. Begitu telaten dan indah. Gila!

Selama saya tinggal di rumah Bu Tari itu, pada awalnya semua biasa saja. Perhatian dan sayang Bu Tari kurasakan tak ada bedanya terhadapku dan Yon. Kupikir semua ini naluri keibuannya saja. Tetapi semua itu berjalan hanya hingga kurang lebih 4 bulan.

Di suatu malam dari balik jendela kamarku kulihat beberapa kali Ibu Tari keluar masuk rumah dengan gelisah menunggu Pak Bagong yang hingga jam 22.00 belum pulang. Sebentar ia kedalam sebentar keluar lagi, duduk dikursi, memandang kejalan dengan muka gelisah, membalik-balik majalah kemudian masuk lagi. Keluar lagi. Kuperhatikan belakangan ini Ibu Tari begitu murung. Ada problem yang ia sembunyikan. Senyumnya sering kali getir dan terpaksa.

Aku beranjak ke kamar mandi untuk pipis. Buku Nick Carter yang semenjak tadi menciptakan penisku tegang kugeletakkan dimeja. Tapi begitu saya kembali ternyata Bu Tari sudah duduk di bangku panjang di kamarku memegang buku itu. Aku hanya meringis ketika Bu Tari meledekku membaca buku Nick Charter yang pas dicerita ah.,eh.,oh kertasnya saya tekuk. Sesaat sesudah kami kehabisan materi bicara, muka Bu Tari kembali mendung lagi. Dia berdiri, berjalan ke sana sini dengan pelan tanpa bunyi merapikan apa saja yang dilihatnya berantakan. Sprei daerah tidur, buku-buku, koran, majalah, pakaian kotor dan asbak rokok. Ya maklum kamar bujanganlah. Aku pindah duduk dikursi panjang lantas mematung memperhatikannya. Seperti tanpa kedip. Semua yang dilakukannya ialah keindahan seorang perempuan, seorang ibu.

Setelah selesai, sejenak Bu Tari hanya berdiri, melihat jam didinding kemudian menatapku dengan mata yang kosong. Aku coba untuk tersenyum sehangat mungkin. Bu Tari duduk di sampingku. Mukanya yang tetap murung akibatnya membuatku berani bicara mengomentari sikapnya belakangan ini dan bertanya kenapa? Bu Tari tersenyum hambar, menggeleng-gelengkan kepala, diam, menunduk, menarik napas dalam dan melepasnya dengan halus. Sunyi. Seperti ingin to the point saja, Bu Tari menceritakan problem dengan suaminya.

Seperti kampung yang diserbu provokator dan perusuh saja, otakku tercabik-cabik, terbuka. Hubungan Bu Tari dengan suaminya selama ini ternyata semuanya penuh kepura-puraan. Kemesraan mereka semu tak bernurani, bagai sebuah ruangan setengah kosong, dan setengahnya lagi sekedar keterpaksaan pelaksanaan kewajiban saja. Bu Tari berada di dalamnya. Suaminya tahu tapi mirip sengaja membiarkannya memikir, menghadapi dan menyelesaikannya sendiri. Menerima keadaan.

Entah lantaran kesepian, butuh orang sebagai tumpahan hatinya yang kesal dan rasa disia-siakan. Bu Tari menceritakan bahwa Pak Bagong sudah usang mempunyai istri simpanan di sebuah perumahan menengah pinggir kota. Tak pernah hal ini ia ceritakan kepada siapapun juga kepada anaknya sendiri Mbak Clara di Jakarta. Sama dengan kebanyakan istri-istri pejabat yang walaupun tahu suaminya punya simpanan perempuan, Bu Tari hanya sanggup menahan hati.

Konon katanya, justru bahu-membahu banyak istri pejabat yang malah mencarikan perempuan khusus untuk dijadiakn simpanan suaminya sendiri, demi keamanan, “nama baik” dan jabatan. Biar si suami tidak asal hantam dan makan sembarang wanita. Toh, Istri tahu atau tidak, terima atau tidak, si suaminya dengan jabatan, uang dan kelelakiannya sanggup melaksanakan apa saja pada perempuan-perempuan yang mau. Semua itu mirip permaisuri yang mencarikan selir untuk suaminya sendiri.

“Dia ingin punya anak pria Win (Win nama palsu saya)” Begitu ucap Bu Tari malam itu. Matanya mulai berkaca-kaca. Dulu Bu Tari memang suka bercerita betapa inginnya ia punya anak pria yang banyak. Dia suka meratapi diri kenapa Yang Mahakuasa hanya memberinya satu anak saja.

“Apakah itu alasan yang masuk akal Win” Ucapnya lagi.
Kedua tangannya memegang tangan kananku dan matanya yang memelas lurus menatapku. Seolah meminta proteksi bahwa kelakuan Pak Bagong salah. Aku bingung. Mau ngomong apa, seribu kata aduk-adukan diotak hingga saya hanya sanggup menggeleng-gelengkan kepala.

Diluar dugaanku, tangis Bu Tari malah meledak tertahan. Dia jatuhkan mukanya ke pundak kiriku. Aku bingung, tapi naluri lelakiku berkata ia teraniaya dan butuh perlindungan, hingga akibatnya tanganku begitu saja merengkuhnya. Bu Tari malah membenamkan wajahnya ke dadaku. Aku elus-elus punggungnya dan dengan pipiku kugesek-gesek rambutnya biar ia tenang. Kucium bacin parfum dari tubuh dan rambutnya.

Sesaat rasanya, hingga akibatnya Bu Tari menarik mukanya dan memandangiku dengan senyumnya yang gusar. Aku ikut tersenyum. Ada malu, ada rasa bersalah, ada pertanyaan ada kehausan di mata Bu Tari, dan ada yang menyesakan dadanya. Entah rasa sayang atau sekedar untuk menetralisir hatinya, saya usap air matanya dengan jariku. Bu Tari hanya membisu setengah melamun menatapku. Hening. Sepi.

“Ibu senang sekali win kau mau tinggal disini. Entah bagaimana rasanya rumah ini kalau tak ada kau dan Yon. Sepi. Tidak ada lagi yang sanggup diharapkan. Mungkin ibu sanggup mati sedih dirumah sebesar ini” Ucap Bu Tari pelan tertunduk murung.
“Kenapa Ibu gres menceritakannya sekarang?” Ucapku.
“Untuk apa?” Ucap Bu Tari menggeleng-geleng.
“Setidaknya beban Ibu sanggup berkurang”.

“Buat Ibu cukup melihat Kamu dan Yon ceria dan senang di rumah ini. Kalianlah yang justru menciptakan Ibu betah di rumah. Untuk apa Ibu harus mengurangi semua itu dengan problem Ibu. Ibu sayang pada kalian”. Ucap Bu Tari sambil memegang jari tanganku. Aku membalasnya dengan meremas jari jemarinya pelan.

“Kamu sayang pada Ibu kan Win? Tanya Bu Tari menatapku.
Aku menggangguk tersenyum. Bu Tari tersenyum bahagia. Lalu entah kenapa saya nekat begitu saja mendekatkan mukaku, mencium kening dan pipinya dengan lembut. Kulihat wajah Bu Tari yang surprise tapi membisu saja.
“Bu Tari marah?” tanyaku.

Dia menggeleng-geleng dan malah balas menciumku, menyenderkan kepalanya miring di pundakku dan melingkarkan tangan kanannya di pinggangku. Kupeluk dia. Lama sekali rasanya kami saling berdiam diri. Tapi saya mencicipi kedamaian yang luar biasa. Sampai akibatnya bunyi motor Yon yang katanya habis diskusi di kelompok studinya datang dan bunyi pintu gerbang terbuka.

Sejak kejadian malam itu hubunganku dengan Bu Tari jadi kian aneh. Mungkin awalnya hanya sekedar menunjukkan rasa sayang dan cinta layaknya seorang anak pada ibunya dan sebaliknya. Walau dengan belakang layar disetiap kesempatan yang ada kami saling tidak menyembunyikan semua itu. Bertatapan dengan mesra, bercanda dan saling memperhatikan lebih dari dulu-dulu.

Tapi mirip air yang tak diatur, semua mengalir begitu saja. Kian usang Bu Tari dan saya berani saling mencium. Cium sayang dan lembut disetiap kesempatan yang ada tanpa seisi rumah tahu Tapi kegalauan dihatiku tetap saja tak sanggup kuingkari. Sering saya bertanya sendiri sayangku, cintaku, ciumanku dan pelukanku pada Bu Tari apakah manifestasi seorang anak pada sosok ibunya, atau seorang lelaki pada seorang perempuan. Hati dan otakku setiap hari dililit pertanyaan sialan itu. Begitu menjengkelkan.

Semua itu berjalan hingga tak sanggup kuingkari bahwa birahi selalu mengikutiku jikalau saya berdekatan dan mencium Bu Tari. Selama ini saya berusaha menekannya. Tapi itu meledak di suatu sore yang sepi.

Semula saya hanya ingin meminjam koran yang biasanya tergeletak di ruang keluarga rumah utama. Tapi ketika kulihat Bu Tari tengah berdiri menikmati ikan-ikan hias aquariumnya. Tiba-tiba saya ingin menggodanya. Aku berjingkat perlahan dan menutup kedua matanya dengan tanganku dari belakang. Ibu Tari kaget berusaha melepaskan tanganku. Aku menahan tawa tetap menutup matanya. Tapi akibatnya Bu Tari mengenaliku juga. Kukendorkan tanganku.

“Wiinn kau bikin kaget ibu saja akh..” Ucap Bu Tari tetap membelakangiku dan menarik kedua tanganku ke depan dadanya. Bu Tari bersandar di dadaku. Kedua tanganku sempurna mengenai payudaranya yang kurasakan empuk itu. Gelora aneh mengalir di darahku. Sementara Bu Tari terus mengomentari ikan-ikan di dalam aquarium, saya justru memperhatikan bulu-bulu lembut di leher jenjangnya Rambutnya yang lurus sebahu ketika itu tertarik ke atas dan terjepit jepitan rambut, hingga leher bagus itu sanggup kunikmati utuh. Aku berdesir. Kurasakan napasku mulai berat. Dengan bibirku akibatnya kukecup leher itu. Bu Tari merintih kegelian dan mencubit lenganku dengan genit.

“Hii. Jangan Wiinn akhh…, Merinding Ibu ah”

Dekapan tanganku di payudara dan dadanya makin kuat. Ketika kuperhatikan ia tidak murka dan tenang maka kuulangi lagi kecupan itu berulang-ulang. Kumis dan bekas cukuran di janggutku membuatnya geli. Tapi kurasakan tangan Bu Tari perlahan mencengkram erat di kedua jariku dan ia membisu saja. Aku makin bernafsu. Ciuman, kecupan dan hisapan bibirku makin menjadi-jadi ke leher dan telinganya.

Bu Tari mendesah memejamkan mata. Kepalanya bergerak-gerak mengikuti cumbuanku. Matanya terpejam dan napasnya menggelora. Kucari bibirnya, lantaran susah maka kuputar tubuhnya menghadapku dan pribadi kusambar dengan bibirku. Kupeluk erat Bu Tari. Dia menggeliat membalas permainan bibirku. Kedua tangannya memegangi bab belakang kepalaku seolah takut saya melepaskan ciuman bibirku. Kuremas-remas payudaranya dengan tangan kananku.

Bu Tari melepaskan ciumannya kemudian merintih-rintih dengan kepala terdongak ke belakang seolah mengatakan lehernya untukku. Dengan bibirku pribadi kuciumi leher itu. Tapi tiba-tiba Bu Tari setengah menghentakan badanku mirip tengah berdiri dari mimpi dan shock ia berkata, “Ya Tuhan, Wiinn…, apa yang kita lakukan?”

Bu Tari menjauhiku dan menempelkan kepalanya ke dinding menahan hati. Akupun bisu. Hening. usang sekali. Aku kian gelisah. Aku ingin keadaan itu berakhir. Aku dekati Bu Tari, memeluknya lagi. Kata-kata cinta meluncur begitu saja dari mulutku. Semua itu menciptakan Bu Tari bingung. Menggeleng-gelengkan kepalanya dan berlari masuk ke kamar menahan tangis.

Tamat

     Perselingkuhan Ku Dengan Tante Yang Kesepian Bagian Satu Perselingkuhan Ku Dengan Tante Yang Kesepian Bagian Satu

Rintihan Calon Binik

Rintihan Calon Binik




Rintihan Calon Binik
bokep video pribadiku dengan calon binikku yang kini jadi mantan .video bokep ini di buat udah agak usang sebelum saya putu dengan calon binikku sebab saya kegoda oleh kimcil sariah monggo yang suka sama bokep bokep yang gak pasaran dan durasi agak usang pribadi play videonya hanya di bokepi.ml

Gejolak Birahi Gadis Yang Baruu Beranjak Dewasa

Gejolak Birahi Gadis Yang Baruu Beranjak Dewasa

Gejolak Birahi Gadis Yang Baruu Beranjak Dewasa
Gejolak Birah,-Cerita ini wacana gadis muda yang berjulukan Marsya ia memiliki wajah bagus dengan bibir tipis, alis yang melengkung matanya indah kolam referensi pimpong kata om iwan fals, bulu mata yang lentik perfect buat ukuran gadis yang berjulukan Marsya ini.

Rambutnya yang hitam dan dipotong pendek menjadikannya lebih menarik, kulitnya putih mulus dan terawat, badannya mulai tumbuh begitu indah dan seksi.

Dia tumbuh di kalangan keluarga yang cukup berada dan menyayanginya. Usianya gres 15 tahun, kadang sifatnya masih kekanakan. Badannya tidak terlalu tinggi berkisar 155 cm, badannya ideal dengan tinggi badannya, tidak terlalu gemuk atau terlalu kurus.

Seminggu yang kemudian Marsya mulai rutin mengikuti belajar khusus Fisika di rumahku, Renne Lobo, saya seorang duda. Aku memiliki sebuah rumah mungil dengan dua buah kamar, diantaranya ada sebuah kamar mandi yang higienis dan harum.

Kamar depan diperuntukkan ruang kerja dan perpustakaan, buku-buku tersusun rapi di dalam rak dengan warna-warna kayu, sama ibarat meja kerja yang di atasnya terletak seperangkat komputer. Sebuah lukisan yang indah tergantung di dinding, lukisan itu semakin tampak indah di latar belakangi oleh warna dinding yang serasi.

Ruang tidurnya dihiasi ornamen yang harmonis pula, dengan daerah tidur besar dan pencahayaan lampu yang menciptakan suasana semakin romantis. Ruang tamu ditata sangat artistik sehingga terasa nyaman.

Rumahku memang terkesan romantis dengan terdengar pelan alunan lagu-lagu cinta, Marsya sedang mengerjakan kiprah yang gres kuperintahkan. Dia terlalu asyik mengerjakan kiprah itu, tanpa sengaja penghapusnya jatuh tersenggol.

Marsya berusaha menggapai ke bawah bermaksud untuk mengambilnya, tapi ternyata ia memegang tanganku yang telah lebih dulu mengambilnya. Marsya kaget melihat ke arahku yang sedang tersenyum padanya. Marsya berusaha tersenyum, dikala tangan kirinya kupegang dan telapak tangannya kubalikkan dengan lembut, kemudian kutaruh penghapus itu ke dalam telapak tangannya.

Aku sebagai orang yang telah cukup berpengalaman sanggup mencicipi getaran-getaran perasaan yang tersalur melalui jari-jari gadis itu, sambil tersenyum saya berkata, “Fan, kau tampak lebih bagus jikalau tersenyum ibarat itu”. Kata-kataku menciptakan gadis itu merasa tersanjung, dengan tidak sadar Marsya mencubit pahaku sambil tersenyum senang.

“Udah punya pacar Fan?”, godaku sambil menatap Marsya.

“Belum, Kak!”, jawabnya malu-malu, wajahnya yang bagus itu bersemu merah.

“Kenapa, kan temen seusiamu sudah mulai punya pacar”, lanjutku.

“Habis mereka maunya cuma hura-hura kayak anak kecil, caper”, komentarnya sambil melanjutkan menulis tanggapan tugasnya.

“Ohh!”, saya bergumam dan beranjak dari daerah duduknya, mengambil minuman kaleng dari dalam kulkas.

“Minum Coca Cola apa Fanta, Fan?”, lanjutku.

“Apa ya! Coca Cola aja deh Kak”, sahutnya sambil terus bekerja.

Aku membawa dua kaleng minuman dan mataku terus melihat dan menelusuri tubuh Marsya yang membelakangi, ternyata menarik juga gadis ini, badannya yang semampai dan bagus cukup membuatku bergairah, pikirku sambil tersenyum sendiri.

“Sudah Kak”, bunyi Marsya mengagetkan lamunanku, kuhampiri dan kusodorkan sekaleng Coca-Cola kesukaan gadis itu. Kemudian saya menyelidiki hasil pekerjaan itu, ternyata benar semua.

“Ahh, ternyata selain bagus kau juga berilmu Fan “, pujiku dan menciptakan Marsya tampak tersipu dan hatinya berbunga-bunga.

Aku yang sengaja duduk di sebelah kanannya, melanjutkan menerangkan pemecahan soal-soal lain, Bau wangi parfum yang kupakai sangat lembut dan terasa nikmat tercium hidung, mungkin itu yang membuatnya tanpa sadar bergeser semakin bersahabat padaku.

Pujian tadi membuatnya tidak sanggup berkonsentrasi dan berusaha mencoba mengerti apa yang sedang dijelaskan, tapi gagal. Aku yang melihatnya tersenyum dalam hati dan sengaja duduk menyamping, agak menghadap pada gadis itu sehingga instingku menyampaikan hatinya agak tergetar.

“Kamu sanggup ngerti yang gres abang jelaskan Fan”, kataku sambil melihat wajah Marsya lewat sudut mata.

Marsya tersentak dari lamunannya dan menggeleng, “Belum, ulang dong Kak!”, sahutnya. Kemudian saya mengambil kertas gres dan diletakkan di depannya, tangan kananku mulai menuliskan rumus-rumus sambil menerangkan, tangan lainnya diletakkan di sandaran dingklik tempatnya duduk dan sesekali saya sengaja mengusap punggungnya dengan lembut.

Marsya semakin tidak sanggup berkonsentrasi, dikala mencicipi usapan lembut jari tanganku itu, jantungnya semakin berdegup dengan keras, usapan itu kuusahakan senyaman dan selembut mungkin dan membuatnya semakin terlena oleh perasaan yang tak terlukiskan. Dia sama sekali tidak sanggup berkonsentrasi lagi. Tanpa terasa matanya terpejam menikmati belaian tangan dan bacin parfum yang lembut.

Dia berusaha melirikku, tapi saya dingin saja, sebagai wanita yang selalu ingin diperhatikan, Marsya mulai mencoba menarik perhatianku. Dia memberanikan diri meletakkan tangan di atas pahaku. Jantungnya semakin berdegup, ada getaran yang menjalar lembut lewat tanganku.

Selesai menerangkan saya menatapnya dengan lembut, ia tak kuasa menahan tatapan mata yang tajam itu, perasaannya menjadi tak karuan, tubuhnya serasa menggigil dikala melihat senyumku, tanpa sadar tangan kirinya meremas lembut pahaku, karenanya Marsya menutup mata sebab tidak berpengaruh menahan gejolak didadanya. Aku tahu apa yang dirasakan gadis itu dengan instingku.

“Kamu sakit?”, tanyaku berbasa basi. Marsya menggelengkan kepala, tapi tanganku tetap meraba dahinya dengan lembut, Marsya membisu saja sebab tidak tahu apa yang harus dilakukan. Aku genggam lembut jari tangan kirinya.

Udara hangat menerpa telinganya dari hidungku, “Kamu benar-benar gadis yang cantik, dan telah tumbuh cukup umur Fan”, gumamku lirih. kebanggaan itu menciptakan dirinya makin bangga, tubuhnya bergetar, dan nafasnya sesak menahan gejolak di dadanya. Dan Marsya ternyata tak kuasa untuk menahan keinginannya meletakkan kepalanya di dadaku, “Ahh..”, Marsya mendesah kecil tanpa disadari.

Aku sadar gadis ini mulai menyukaiku, dan berhasil membangkitkan perasaan romantisnya. Tanganku bergerak mengusap lembut indera pendengaran gadis itu, kemudian turun ke leher, dan kembali lagi naik ke indera pendengaran beberapa kali. Marsya merasa angan-angannya melambung, entah kenapa ia pasrah saja dikala saya mengangkat dagunya, mungkin terselip hatinya perasaan ingin terus menikmati belaian-belaian lembut itu.

“Kamu memang sangat bagus dan saya yakin jalan pikiranmu sangat dewasa, Aku kagum!”, kataku merayu.
Udara hangat terasa menerpa wajahya yang cantik, disusul bibir hangatku menyentuh keningnya, kemudian turun pelan ke telinga, hangat dan lembut, perasaan nikmat ibarat ini niscaya belum pernah dialaminya. Anehnya ia menjadi ketagihan, dan merasa tidak rela untuk cepat-cepat mengakhiri semua kejadian itu.

“Ja.., jangan Kak”, pintanya untuk menolak. Tapi ia tidak berusaha untuk mengelak dikala bibir hangatku dengan lembut penuh perasaan menyusuri pipinya yang lembut, putih dan halus, dikala mencicipi hangatnya bibirku mengulum bibirnya yang mungil merah merekah itu bergeter, saya yakin gres pertama kali ini ia mencicipi nikmatnya dikulum dan dicium bibir laki-laki.

Jantung di dadanya berdegup makin keras, perasaan nikmat yang menyelimuti hatinya semakin membuatnya melambung. “Uuhh..!”, hatinya tergelitik untuk mulai membalas ciuman dan kuluman-kuluman hangatku.

“Aaahh..”, ia mendesah mencicipi remasanku lembut di payudara kiri yang menonjol di dadanya, seakan tak kuasa melarang. Dia membisu saja, remasan lembut menambah kenikmatan tersendiri baginya.
“Dadamu sangat indah Fan”, sebuah kebanggaan yang membuatnya semakin mabuk, bahkan tangannya kini memegang tanganku, tidak untuk melarangnya, tapi ikut menekan dan mengikuti irama remasan di tanganku. Dia benar-benar semakin menikmatinya. Serdadukupun mulai menegang.

“Aaahh”, Marsya mendesah kembali dan pahanya bergerak-gerak dan tubuhnya bergetar membuktikan vaginanya mulai berair oleh lendir yang keluar akhir rangsangan yang dialaminya, hal itu menciptakan vaginanya terasa geli, merupakan kenikmatan tersendiri. Dia semakin terlena diantara degup-degup jantung dan keinginannya untuk mencapai puncak kenikmatan. Diimbanginya kuluman bibir dan remasan lembut di atas buah dadanya.

Saat tanganku mulai membuka kancing baju seragamnya, tangannya mencoba menahannya.
“Jangan nanti dilihat orang”, pintanya, tapi tidak kupedulikan. Kulanjutkan membuka satu persatu, dadanya yang putih mulus mulai terlihat, buah dadanya tertutup bra warna coklat.

Seakan ia sudah tidak peduli lagi dengan keadaannya, hanya kenikmatan yang ingin dicapainya, ia pasrah dikala kugendong dan merebahkannya di atas daerah tidur yang bersprei putih. Di daerah tidur ini saya merasa lebih nyaman, semakin sanggup menikmati cumbuan, dibiarkannya dada yang putih mulus itu makin terbuka.

“Auuuhh”, bibirku mulai bergeser pelan mengusap dan mencium hangat di lehernya yang putih mulus. “Aaaahh”, ia makin mendesah dan mencicipi kegelian lain yang lebih nikmat.

Aku semakin senang dengan bacin wangi di tubuhnya. “Tubuhmu wangi sekali”, kembali rayuan itu membuatnya makin besar kepala. Tanganku itu dibiarkan menelusuri dadanya yang terbuka. Marsya sendiri tidak kuasa menolak, seakan ada perasaan gembira tubuhnya dilihat dan kunikmati. Tanganku kini menelusuri perutnya dengan lembut, membuatnya menggelinjang kegelian. Bibir hangatku beralih menelusuri dadanya.

“Uhh.!”, tanganku menarik bajunya ke atas hingga keluar dari rok abu-abunya, kemudian jari-jarinya melepas kancing yang tersisa dan menari lembut di atas perutnya. “Auuuhh” membuatnya menggelinjang nikmat, perasaannya melambung mengikuti irama jari-jariku, sementara serdaduku terasa makin tegang.

Dia mulai menarik kepalaku ke atas dan mulai mengimbagi ciuman dan kuluman, ibarat caraku mengulum dan mencium bibirnya. “Ooohh”, terdengar desah Marsya yang semakin terlena dengan ciuman hangat dan tarian jari-jariku diatas perutnya, kini dada dan perutnya terlihat putih, mulus dan halus hanya tertutup bra coklat muda yang lembut.

Aku semakin tegang hingga harus mengatur gejolak birahi dengan mengatur pernafasanku, saya terus mempermainkan tubuh dan perasaan gadis itu, kuperlakukan Marsya dengan halus, lembut, dan tidak terburu-buru, hal ini menciptakan Marsya makin ingin tau dan makin bernafsu, mungkin itu yang menciptakan gadis itu pasrah dikala tanganku menyusup ke belakang, dan membuka kancing branya.
Tanganku mulai menyusup di serpihan dada yang menonjol di bawah bra gadis itu, terasa kenyal dan padat di tanganku.

“Aaahh.. Uuuhh. ooohh”, Marsya menggelinjang gelinjang geli dan nikmat, jemari itu menari dan mengusap lembut di atas buah dadanya yang mulai berkembang lembut dan putih, seraya terus berpagutan. Dia merasa semakin nikmat, geli dan melambungkan angan-angannya.

Ujung jariku mulai mempermainkan puting susunya yang masih kecil dan kemerahan itu dengan sangat hati-hati. “Kak.. Aaahh.. uuhh.. ahh”. Marsya mulai menyampaikan gejala terangsang hingga berusaha ikut membuka kancing bajuku, agak susah, tapi ia berhasil.

Tangannya menyusup kebalik baju dan mengelus dadaku, sementara birahinya makin memuncak. “Ngghh.. “, vaginanya yang berair semakin membuatnya nikmat, pikirku. Marsya berdasarkan ketika badannya diangkat sedikit, dibiarkannya baju dan branya kutanggalkan, kemudian dilempar ke samping daerah tidur.

Sekarang tubuh serpihan atasnya tidak tertutup apapun, ia tampak tertegun dan risih sejenak, dikala mataku menelusuri lekuk tubuhnya. Di sisi lain ia merasa kagum dengan dua gunung indah yang masih perawan yang menyembul di atas dadanya, belum pernah terjamah oleh siapapun selain dirinya sendiri.

Sedangkan saya tertegun sejenak melihat pemandangan di depan mataku, birahiku bergejolak kembali, saya berusaha mengatur pernafasan, sebab tidak ingin melepaskan nafsu binatangku hingga menyakiti perasaan gadis bagus yang tergolek pasrah di depanku ini.

Aku mulai mengulum buah dada gadis itu perlahan, terasa membusung lembut, putih dan kenyal. Diperlakukan ibarat itu Marsya menggelinjang, “Ahh.. uuuhh.. aaahh”.

Pengalaman pertamanya ini menciptakan angan-angannya terbang tinggi. Buah dadanya yang putih, lembut, dan kenyal itu terasa nikmat kuhisap lembut, tarian pengecap diputing susunya yang kecil kemerahan itu mulai berdiri dan mengeras.

“Aaahh..!”, ia merintih geli dan makin mendekap kepalaku, vaginanya mungkin kini terasa membanjir. Birahinya semakin memuncak. “Kak.. ahh, terus Kak.. ahh.. Uhh”, rintihnya makin panjang. Aku terus mempermainkan buah dada gadis lugu itu dengan bibir dan lidahku, sambil membuka kancing bajuku sendiri satu persatu, kemudian baju itu kutanggalkan, terlihat dadaku yang bidang dan atletis.

Kembali ujung bibirnya kukulum, terasa geli dan nikmat. Saat Marsya akan membalas memagutnya, telapak tangannya kupegang dan kubimbing naik ke atas kepalanya.

Aku mulai mencium dan menghisap lembut, dan menggigit kecil tangan kanannya, mulai dari pangkal lengan, siku hingga ujung jarinya diisap-isap. Membuatnya bertambah geli dan nikmat. “Geli.. ahh.. ohh!”

Perasaannya melambung kembali, ketika buah dadanya dikulum, dijilati dan dihisap lembut.

“Uuuhh.!”, ia makin mendekapkan kepalaku, itu akan menciptakan vaginanya geli, menciptakan birahinya semakin memuncak.

“Kak.. ahh, terus kak.. ahh.. ssst.. uhh”, ia merintih rintih dan menggelinjang, sesekali kakinya menekuk ke atas, hingga roknya tersingkap.

Sambil terus mempermainkan buah dada gadis itu. saya melirik ke paha mulus, indah terlihat di antara rok yang tersingkap. Darahku berdesir, kupindahkan tanganku dan terus menari naik turun antara lutut dan pangkal paha putih mulus, masih tertutup celana yang membasah, Aku mencicipi birahi Marsya semakin memuncak. Aku terus mempermainkan buah dada gadis itu.

“Kak.. ahh, terus Kak.. ahh.. uhh”, terdengar gadis itu merintih panjang. Aku dengan pelan dan niscaya mulai membuka kancing, kemudian menurunkan retsleting rok abu-abu itu, seakan Marsya tidak peduli dengan tindakanku itu. Rangsangan yang menciptakan birahinya memuncak membuatnya bertekuk lutut, menyerah.

“Jangan Kak.. aahh”, tapi saya tidak peduli, bahkan kemudian Marsya malah membantu menurunkan roknya sendiri dengan mengangkat pantatnya. Aku tertegun sejenak melihat tubuh putih mulus dan indah itu. Kemudian tubuh gadis itu kubalikkan sehingga posisinya tengkurap, bibirku merayap ke leher belakang dan punggung.

“Uuuhh”, ketika membalikkan badan, Marsya melihat sesuatu yang menonjol di balik celana dalamku. Dia kaget, malu, tapi ingin tahu. “Aaahh”. Marsya mulai merapatkan kakinya, ada perasaan risih sesaat, kemudian hilang kalah oleh nafsu birahi yang telah menyelimuti perasaannya.

“Ahh..”, ia membisu saja dikala saya kembali mencium bibirnya, membimbing tangannya ke bawah di antara pangkal paha, ia kini memegang dan mencicipi serdadu yang keras lingkaran dan panjang di balik celanaku, sejenak Marsya sejenak mengelus-elus benda yang menciptakan hatinya penasaran, tapi kemudian ia kaget dan menarik tangannya.

“Aaahh”, Marsya tak kuberikan kesempatan untuk berfikir lain, ketika mulutku kembali memainkan puting susu mungil yang berdiri tegak dengan indahnya di atas tonjolan dada. Vaginanya terasa makin membanjir, hal ini menciptakan birahinya makin memuncak.

“Ahh.. ahh.. teruuus.. ahh.. uhh”, sambil terus memainkan buah dadanya, tanganku menari naik turun antara lutut dan pangkal pahanya yang putih mulus yang masih tertutup celana. Tanpa disadarinya, sebab nikmat, tanganku mulai menyusup di bawah celana dalamnya dan mengusap-usap lembut bawah pusar yang mulai ditumbuhi rambut, pangkal paha, dan pantatnya yang kenyal terbentuk dengan indahnya bergantian.

“Teruuuss.. aaahh.. uuuhh”, sebab geli dan nikmat Marsya mulai membuka kakinya, jari-jari Rene yang pembangkang mulai menyusup dan mengelus vaginanya dari serpihan luar celana, birahinya memuncak hingga kepala.

“Ahh.. terus.. ahh.. ohh”, gadis itu kaget sejenak, kemudian kembali merintih rintih. Melihat Marsya menggelinjang kenikmatan, tanganku mencoba mulai menyusup di balik celana melalui pangkal paha dan mengelus-elus dengan lembut vaginanya yang berair lembut dan hangat. Marsya makin menggelinjang dan birahinya makin membara. “Ahh.. teruusss ooh”, Marsya merintih rintih kenikmatan.

Aku tahu gadis itu hampir mencapai puncak birahi, dengan gampang tanganku mulai beraksi menurunkan celana dalam gadis itu perlahan. Benar saja, Marsya membiarkannya, sudah tidak peduli lagi bahkan mengangkat pantat dan kakinya, sehingga celana itu terlepas tanpa halangan.

Tubuh gadis itu kini tergolek bugil di depan mataku, tampak semakin indah dan merangsang. Pangkal pahanya yang sangat bagus itu dihiasi bulu-bulu lembut yang mulai tumbuh halus. Vaginanya tampak kemerahan dan berair dengan puting vagina mungil di tengahnya. Aku terus memainkan puting susu yang kini berdiri tegak sambil terus mengelus bibir vagina makin membanjir. “Kak.. ahh, terus Kak.. ahh.. uhh”.

Vagina yang berair terasa geli dan gatal, nikmat hingga ujung kepala. “Kak.. aahh”, Marsya tak tahan lagi dan tangannya menyusup di bawah celana dalamku dan memegang serdadu yang keras lingkaran dan panjang itu. Marsya tidak merasa aib lagi, bahkan mulai mengimbangi gerakanku.

Aku tersenyum penuh kemenangan melihat tindakan gadis itu, secara tidak eksklusif gadis itu meminta untuk bertindak lebih jauh lagi. Aku melepas celana dalamku, melihat serdaduku yang besar dan keras berdiri tegak dengan gagahnya, mata gadis itu terbelalak kagum.

Sekarang kami tidak menggunakan epilog sama sekali. Marsya kagum hingga mulutnya menganga melihat serdadu yang besar dan keras berdiri tegak dengan gagahnya, gres pertama kali ia melihat benda itu. Vaginanya niscaya sudah sangat geli dan gatal, ia tidak peduli lagi jikalau masih perawan, kemudian telentang dan pelan-pelan membuka leber-lebar pahanya.

Sejenak saya tertegun melihat vagina yang higienis kemerahan dan dihisi bulu-bulu yang gres tumbuh, lubang vaginanya tampak masih tertutup selaput perawan dengan lubang kecil di tengahnya.

Marsya hanya tertegun dikala saya berada di atasnya dengan serdadu yang tegak berdiri. Sambil bertumpu pada lutut dan siku, bibirku melumat, mencium, dan kadang menggigit kecil menjelajahi seluruh tubuhnya.

Kuluman di puting susu yang disertai dengan gesekan-gesekan ujung burung ke bibir vaginanya kulakukan dengan hati-hati, makin membasah dan nikmat tersendiri. “Kak.. ahh, terus ssts.. ahh.. uhh”, birahinya memuncak bisa-bisa hingga kepalanya terasa kesemutan, dipegangnya serdaduku. “Ahh” terasa hangat dan kencang.

“Kak.. ahh!”, ia tak sanggup lagi menahan gejolak biraninya, membimbing serdaduku ke lubang vaginanya, ia mulai menginginkan serdaduku menyerang ke lubang dan merojok vaginanya yang terasa sangat geli dan gatal.

“Uuuhh.. aaahh”, tapi saya malah memainkan topi baja serdaduku hingga menyenggol-nyenggol selaput daranya. “Ooohh Kak masukkan ahh”, gadis itu hingga merintih rintih dan meminta-minta dengan penuh kenikmatan.

Dengan hati-hati dan pelan-pelan saya terus mempermainkan gadis itu dengan serdaduku yang keras, hangat tapi lembut itu menyusuri bibir vagina.

“Ooohh Kak masukkan aaahh”, di sela rintihan nikmat gadis itu, sesudah kulihat puting susunya mengeras dan gerakannya mulai agak lemas, serdadu mulai menyerang masuk dan menembus selaput daranya, Sreetts “Aduuhh.. aahh”, tangannya mencengkeram bahuku.

Dengan begitu, Marsya hanya merasa lubang vaginanya ibarat digigit nyamuk, tidak begitu sakit, dikala selaput dara itu robek, ditembus serdaduku yang besar dan keras. Burungku yang terpercik darah perawan bercampur lendir vaginanya terus masuk perlahan hingga setengahnya, ditarik lagi pelan-pelan dan hati-hati. “Ahh”, ia merintih kenikmatan.

Aku tidak mau terburu-buru, saya tidak ingin lubang vagina yang masih agak seret itu menjadi sakit sebab belum terbiasa dan belum elastis. Burung itu masuk lagi setengahnya dan.. Sreeets “Ohh..”, kali ini tidak ada rasa sakit, Marsya hanya mencicipi geli dikala dirasakan burung itu keluar masuk merojok vaginanya. Marsya menggelinjang dan mengimbangi gerakan dan mendekap pinggangnya.

“Kak.. ahh, terus Kak.. ohh.. uhh”, serdaduku terus menghunjam semakin dalam. Ditarik lagi, “Aaahh”, masuk lagi. “Ahh, terus… ahh.. uhh”, lubang vagina itu makin usang makin mengembang, hingga burung itu sanggup masuk hingga mencapai pangkalnya beberapa kali.

Marsya mencicipi nikmat birahinya memuncak di kepala, perasaannya melayang di awan-awan, badannya mulai bergeter getar dan mengejang, dan tak tertahankan lagi. “Aaahh, ooohh, aaahh” vaginanya berdenyut-denyut melepas nikmat. Dia telah mencapai puncak orgasme, kemudian terlihat lega yang menyelimuti dirinya.

Melihat Marsya sudah mencapai orgasme, saya kini melepas seluruh rasa birahi yang tertahan semenjak tadi dan makin cepat merojok keluar masuk lubang vagina Marsya, “Kak.. ahh.. ssst.. ahh.. uhh”, Marsya merintih dan mencicipi nikmat birahinya memuncak kembali. Badannya kembali bergetar dan mengejang, begitu juga denganku.

“Ahh.. oohh.. ohh.. aaaahh!”, kami merintih rintih panjang menuju puncak kenikmatan. Dan mereka mencapai orgasme hampir bersamaan, terasa serdadu menyemburkan air mani hangat ke dalam vagina gadis itu yang masih berdenyut nikmat.

Aku mengeluarkan serdadu yang terpercik darah perawan itu pelan-pelan, berbaring di sebelah Marsya dan memeluknya supaya Marsya merasa aman, ia tampak merasa sangat puas dengan pelajaran tahap awal yang kuberikan.

“Bagaimana jikalau Marsya hamil Kak”, katanya sambil sudut matanya mengeluarkan air mata.
Sesaat kemudian saya dengan sabar menjelaskan bahwa Marsya mustahil hamil, sebab tidak dalam masa siklus subur, berkat pengalamanku menganalisa kekentalan lendir yang keluar dari vagina dan siklus menstruasinya.

Marsya semakin merasa lega, aman, merasa disayang. Kejadian tadi sanggup berlangsung sebab merupakan cita-cita dan kerelaannya juga. Diapun sanggup tersenyum puas dan menitikkan air mata bahagia, kemudian tertidur pulas dipelukanku yang telah menjadikannya seorang perempuan.|

Bangun tidur, Marsya membersihkan tubuh di kamar mandi. Selesai mandi ia kembali ke kamar, dilepasnya handuk yang melilit tubuhnya, begitu indah dan menggairahkan sampai-sampai saya tak berkedip memandangnya. Diambilnya pakaian yang acak-acakan dan dikenakannya kembali satu persatu. Kemudian ia pamit pulang dan mencium pipiku yang masih berbaring di daerah tidur.

Tamat

  Gejolak Birahi Gadis Yang Baruu Beranjak Dewasa Gejolak Birahi Gadis Yang Baruu Beranjak Dewasa 

Navigation List